Preservasi Koleksi Perpustakaan

Preservasi berasal dari kata preserve atau to preserve yang artinya pemeliharaan, penjagaan, serta pengawetan. Preservasi menurut Basuki adalah kegiatan melestarikan bahan pustaka atau arsip yang didalamnya mencangkup suatu kebijakan, mulai dari kebijakan pengelolaan, keuangan, sumber daya manusia, metode serta teknik penyimpanan (Ardhiyanti, Khadijah, & Sumiati, 2012) . Sedangkan menurut UNESCO 1979 mendefinisikan preservasi sebagai kegiatan penanganan dengan suatu benda agar terhindar dari yang kerusakan lebih lanjut akibat udara lembab, faktor kimia, serangan mikroorganisme atau biologi (Oktaningrum dan Perdana, 2017).

Preservasi ini mencangkup aspek yang luas, mulai dari memperbaiki, mencegah, serta memperlambat kerusakan, artinya preservasi merupakan kegiatan mempertahankan kondisi suatu objek agar terhindar dari kerusakan faktor fisika, kimia, biologi, serta dapat menjaga kelestariannya.

Tujuan preservasi adalah untuk memperpanjang usia bahan bahan pustaka, mempertahankan bentuk fisik sehingga dapat melestarikan kandungan informasi yang ada di dalam bahan pustaka.

Hal yang perlu diperhatikan sebelum melakukan preservasi adalah mengetahui faktor penyebab kerusakan bahan pustaka. Terdapa 2 faktor yang menyebabkan kerusakan pada bahan pustaka yakni ada faktor internal dan eksternal (Fatmawati, 2017).

Faktor Internal (Karakteristik Koleksi)

Penyebab kerusakan pada faktor internal lebih kepada kualitas kertas, tinta, dan lem yang digunakan suatu bahan pustaka.

Faktor Eksternal (Lingkungan, Manusia, Bencana Alam, Biota/Biologi)

Faktor Lingkungan

Secara umum kerusakan koleksi pada faktor lingkungan disebabkan oleh faktor fisika, seperti cahaya (sinar matahari dan lampu), pencemaran udara, suhu / temperatur.

Cahaya lampu dapat menyebabkan memudarnya tinta dan kertas. Agar bahan pustaka dapat terhindar dari kerusakan tersebut, maka pencahayaan ruangan koleksi perpustakaan harus diatur dengan baik. Pencahayaan yang baik untuk ruang koleksi adalah 40 lux. Alat yang digunakan untuk mengukur intensitas cahaya adalah lux meter. Selain cahaya lampu, sinar ultraviolet juga akan mempengaruhi rusaknya koleksi, untuk itu koleksi harus terhindar dari sinar ultra violet. Maka untuk menghindari kerusakan hendaknya jendela pada perpustakaan menggunakan gorden agar dapa mengontrol intensitas cahaya yang masuk.

Pencemaran udara berasal debu. Debu yang melekat pada kertas akan menimbulkan reaksi kimia sehingga akan meningkatkan keasaman pada kertas. Akibatnya kertas menjadi rapuh, maka sebaiknya ventilasi udara ditutup.

Temperatur dan kelembaban udara harus stabil. Kelembaban yang terlalu tinggi akan menyebabkan kertas longgar, rapuh, dan sampul keriput, sedangkan jika kelembaban terlalu rendah akan menumbuhkan jamur pada koleksi. Maka, suhu / temperatur harus stabil menggunakan pendingin ruangan. Suhu yang ideal bagi ruang koleksi perpustakaan kurang lebih 20 – 24 derajat celcius, dan kelembaban udara kurang lebih 45 – 60% RH. Termometer adalah alat untuk mengukur suhu, sedangkan alat untuk mengukur kelembaban adalah hygrometer. Alat untuk mengukur keduanya (suhu dan kelembaban) adalah thermohygrograph.

Faktor Manusia

Adapun kerusakan yang diakibatkan oleh tangan manusia terhadap bahan pustaka yaitu seperti vandalisme dan mutilasi (perobekan).

Faktor Biota/Biologi

Kerusakan biota ini berasal dari hewan dan serangga (rayap dan kecoa). Maka, untuk proses preservasi dari binatang tersebut dapat menggunakan bahan alami seperti merica. Caranya letakan tumbukan biji pedas atau merica yang telah dimasukkan kedalam kantong kecil yang terbuat dari kain kasa, kemudian simpan di rak. Cara ini dilakukan karena tumbukan merica memiliki bau yang menyengat, sehingga apabila diletakan di rak buku dan di sela-sela buku dapat membuat rayap tidak ingin mendekati buku (Wawancara Teguh Adhi Primasanto, Muhamad Reza Mansoor, Feriyanto, 2019).

Pencegahan kedua dilakukan dengan menggunakan kertas warna-warni yang diberi lem diatas permukaan berwarnanya. Cara ini dilakukan untuk menarik fokus rayap dan kecoa, sehingga mereka tertarik dengan kertas warna-warni. Maka, buku-buku yang tersimpan di rak selamat dari rayap (Wawancara Teguh Adhi Primasanto, Muhamad Reza Mansoor, Feriyanto, 2019).

Cara ini telah dilakukan oleh perpustakaan Museum KAA sebagai proses preservasi bahan pustaka secara alami, tanpa menggunakan bahan kimia.

Faktor Bencana Alam

DAFTAR PUSTAKA

Primasanto, A.T., dkk. (2019).Wawancara “Sejarah, Bangunan, dan Preservasi di Museum KAA”. Jl. Asia-Afrika N0. 65 Braga, Bandung.

Ardhiyanti, V., Khadijah, U. S., & Sumiati, T. (2012). Kegiatan Preservasi Prevenif Arsip Di Bank Indonesia Bandung. eJurnal Mahasiswa Universitas Padjadjaran, 1-13. Retrieved from http://journals.unpad.ac.id

Fatmawati, E. (2017). IDENTIFIKASI FAKTOR-FAKTOR PENYEBAB KERUSAKAN. EDULIB: Journal of Library and Information Science, 7, 108-119. doi:https://doi.org/10.17509/edulib.v7i2.9722.g5991

Oktaningrum, E. D., & Perdana, F. (2017). Preservasi Koleksi Bahan Pustaka Akibat Bencana Alam Di Perpustakaan SDN Kudang Tasikmalaya. Kajian Informasi & Perpustakaan, 5, 23-36.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *